Aku cuma ingin kamu berlari riang & menari-nari di dalam hatiku...
*Untuk Intan Puspitasari
Ini cuma sebuah memoir... tak usah ditanggapi jika tak suka, toh ini cuma menggumam semata :)
Senin, 22 Oktober 2012
Minggu, 21 Oktober 2012
Dingin yang hangat
Tidurku yang jenuh, mulai abadi
Mungkin, malam gelap tak akan pernah kembali...
Dingin terus bersetubuh...
Dingin yang muncul, karena jauh darimu
Dan aku yakin,
Jika kau bersamaku...
Mungkin dinginpun akan terasa hangat
Bibirmu
Benarkah ini bibirmu ?
Yang kuciumi dan jilati dihari Sabtu
Bulan yang merah, mengintip dari langit-langit
Aku seakan tak pernah peduli dengan itu
Angin-angin nakalpun, mulai tersenyum menatap kami
Dan sekali lagi, aku tak peduli...
Karena aku tak sanggup
Mengabaikan bibir nikmatmu...
Maka...
Pinjami aku bibir itu lagi, agar aku bisa mengabaikan semuannya
Yang kuciumi dan jilati dihari Sabtu
Bulan yang merah, mengintip dari langit-langit
Aku seakan tak pernah peduli dengan itu
Angin-angin nakalpun, mulai tersenyum menatap kami
Dan sekali lagi, aku tak peduli...
Karena aku tak sanggup
Mengabaikan bibir nikmatmu...
Maka...
Pinjami aku bibir itu lagi, agar aku bisa mengabaikan semuannya
Mulailah tidur
Aku lelah, pada waktu yang mulai berguguran
Setelah yang ku lakukan, selalu bertebaran...
Mata yang keji, mulai tidak sudi menatap dunia
Mulailah tidur !
Lalu bangun...
Dan kumpulkan lagi waktu yang telah berserakan
~Akhir
Hari ini, aku melihat inspirasi...
Inspirasi yang membuatku bermotivasi
Tapi, itu hanyalah mimpi buruk...
Lebih memburuk saat aku membelainya
Aku seolah binatang..
Yang hanya bisa takut pada bintang
Dan, baru aku mengerti
Aku hanyalah bulan yang menerangi malam (bukannya siang)
Jadi jangan kau lihat aku sekarang
#dokumentasi puisi saat SMP (2007)
Hitamnya malam ini
Malam ini...
Langit begitu memudar menjadi hitam
Tak ada yang muncul untuk memainkan peran
Mungkin bulan sudah tidak sudi menerangi malam
Dan celakanya bintangpun begitu
Tapi dingin kian menjadi
Seakan memelukku erat
Aku mulai takut untuk menatap malam ini
Karena tubuhku yang rapuh , tak bisa melihat ini..
#dokumentasi puisi saat SMP (2007)
Berhentilah menangis !
Berhentilah menangis...
Jangan kau tangisi dia
Dia sudah tidak ada, dan tak mungkin menjadi ada
Jadi, hapuslah air matamu !
Jangan kau mengingatnya...
Karena aku yakin
Aku bisa menggantikannya
#dokumentasi puisi saat SMP (2007)
#dokumentasi puisi saat SMP (2007)
Aku suka hari ini
Saat aku bangun, ku tersadar diriku terjerat selimut
yang jadi teman tidurku tadi malam
Nuansa pagi, seakan perlahan masuk
dan mulai bisa kucium wangi tubuhnya
Aku masih terbujur, dan mengumpulkan roh-roh yang berkeliaran
tak karuan di sana-sini
Ku nikmati hari, yang begitu jarang aku pahami
Bisa kulihat matahari mengintip dari balik gordeng dan berkata
"Selamat pagi !"
Hari ini adalah hari bahagia...
Karena hari ini hari Minggu, dan aku tak perlu repot-repot ke sekolah :)
#dokumentasi puisi saat SMP (2007)
#dokumentasi puisi saat SMP (2007)
Belailah
Belaian tanganmu, sehalus angin yang bersalju...
Malam ini, kita bersama meminum secangkir hangatnya bulan
Aku tak peduli, kai itu apa, dari mana & siapa !
Setengah dari hatiku telah kau jerat...
Dan mungkin esok, akan sepenuhnya
Aku tahu, aku tak bisa membelai wajahmu
Tapi, aku sangat yakin....
Bahwa aku mencintaimu
#dokumentasi puisi saat SMP (2007)
Malam ini, kita bersama meminum secangkir hangatnya bulan
Aku tak peduli, kai itu apa, dari mana & siapa !
Setengah dari hatiku telah kau jerat...
Dan mungkin esok, akan sepenuhnya
Aku tahu, aku tak bisa membelai wajahmu
Tapi, aku sangat yakin....
Bahwa aku mencintaimu
#dokumentasi puisi saat SMP (2007)
Sabtu, 20 Oktober 2012
Sang pedagang ketan bakar
Sore ini aku berjalan di jalanan pertigaan
bertemu kekasih.. lalu memahat cinta , mematahkan rindu
Saat sedang asyik bercumbu
Tak kusangka ada mata yang memandang
Mata yang telah lelah melihat ribuan pasangan bercumbu di jalanan
Dia seorang pedagang ketan bakar
Menjajakkan makanan yang masih menumpuk banyak di depan
Nafasnya seakan minta dia segera pulang
Tapi istrinya tak akan makan jika dia pulang
Anaknya juga tak bisa sekolah jika dia tak laku berdagang
Tak tega rasanya melihat dia melenggang pulang tanpa uang
Ku harap aku bisa jadi malaikat yg bisa memberinya setumpuk uang
Dan membiarkan dia tidur lelap di atas ranjang harapan anak-anak nya
Tapi masih tersimpul sebuah senyum dari bibirnya yang kering oleh debu jalanan
Dia percaya...
Hidup itu anugerah... jangan disia-siakan
bertemu kekasih.. lalu memahat cinta , mematahkan rindu
Saat sedang asyik bercumbu
Tak kusangka ada mata yang memandang
Mata yang telah lelah melihat ribuan pasangan bercumbu di jalanan
Dia seorang pedagang ketan bakar
Menjajakkan makanan yang masih menumpuk banyak di depan
Nafasnya seakan minta dia segera pulang
Tapi istrinya tak akan makan jika dia pulang
Anaknya juga tak bisa sekolah jika dia tak laku berdagang
Tak tega rasanya melihat dia melenggang pulang tanpa uang
Ku harap aku bisa jadi malaikat yg bisa memberinya setumpuk uang
Dan membiarkan dia tidur lelap di atas ranjang harapan anak-anak nya
Tapi masih tersimpul sebuah senyum dari bibirnya yang kering oleh debu jalanan
Dia percaya...
Hidup itu anugerah... jangan disia-siakan
Senin, 15 Oktober 2012
Sebuah Sajak Sederhana Tentangnya
Semuanya hilang
bagai debu yang terbang... hilang jadi lautan
aku, kamu, dia & mereka hanya jadi hiburan alam untuk bersenang-senang
menjungkir balikan kehidupan
jadi sakit & hati yang tersiksa
Tuhan bilang jangan terlalu berharap
karena kecewa sudah menanti di ujung harapanmu
Setan bilang menyerahlah
karena sedih akan datang setelah kita penuh sesal
akhirnya hanya tinggal tulang & perih yang bersaksi
kenangannya baru saja pergi
senyumannya sudah tidak bisa dinanti
Tapi rasa sakitnya akan teringat sampai terbawa mati
Langganan:
Postingan (Atom)